Translator

Rabu, Juni 2

Entah Dimana Kepedulian Itu

"lalu siapa yang peduli pada penderita schizophrenia? Ternyata hanya penderita itu sendiri"
Agak miris mendengar hal ini. Pernyataan ini diperdengarkan oleh seorang penderita schizopherina dalam talkshow mata kuliah Psikologi Abnormal, Selasa, 1 Juni 2010, Gedung G-100 Fakultas Psikologi UGM.  Dalam talkshow ini, dihadirkan empat orang tamu, seorang psikiatri, Profesor dari  Harvard University, dan dua orang penderita schizophrenia-sebut saja A dan B. Perlu diketahui bahwa schizophrenia berasal dari kata Yunani, skizein-pecah dan phren-pecah, sehingga seorang penderita schizophrenia dapat dikatakan mengalami pemikiran yang pecah. Ciri utama dari schizophrenia ini adalah delusi dan halusinasi.
Banyak hal yang diungkapkan dalam talkshow ini seperti pengalaman A dan B ketika didera schizophrenia. cerita tentang delusi dan halusinasi mereka, dan bagaimana pada akhirnya mereka bisa mengendalikan pikiran mereka dan kembali ke realitas-kembali kepada kehidupan normal, serta kehidupan sosial mereka. Bagaimana pandangan dunia psikiatri terhadap gangguan schizophrenia serta beberapa wacana dari sang Profesor.
Yang menjadi menarik bagi saya yaitu kehidupan sosial mereka. Diceritakan bahwa tidaklah mudah bagi mereka untuk menjalani kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini berkaitan dengan adanya labeling dari masyarakat yang tetap menganggap orang seperti mereka-A dan B- gila, walaupun ketika mereka tidak mengalami masa-masa schizophrenianya. Adanya labeling dari masyarakat ini menjadikan penderita schizophrenia dapat membuat mereka resah dan mungkin saja akan membuat mereka. Masyarakat sekitar, bahkan mungkin pula terjadi orang tua penderita sendiri, mencemooh dan mengecap hal-hal buruk terhadap penderita schizophrenia ini. 
Sekali gila tetap gila
mungkin anggapan ini masih tertanam dalam benak masyarakat kita. Dapat diambil sebuah gambaran, bahwa kepedulian masyarakat terhadap penderita schizophrenia tergolong rendah. Sebenarnya, apabila seorang penderita schizophrenia telah mendapatkan penanganan medis, tidak selamanya ia berada dalam fase "kegilaannya". Ada suatu fase dimana ia dapat hidup layaknya orang normal di sekitarnya. Namun apadaya, labeling dari masyarakat sekitar membuat mereka menjadi agak susah untuk "menjadi" layaknya orang normal.
Seperti yang dikatakan B
"yang peduli pada penderita schizophrenia hanyalah orang schizophrenia sendiri. Nyatanya forum-forum pendukung penderita schizophrenia ini, kebanyakan adalah orang yang juga penderita schizophrenia"



*delusi : sebuah misinterpretasi terhadap realitas
halusinasi : pengalaman kejadian sensorik tanpa input dari lingkungan sekitar, misalkan mendengar suara-suara aneh, padahal sebenarnya sedang dalam suasana hening.

18 komentar:

Catatan Cahaya mengatakan...

*delusi : sebuah misinterpretasi terhadap realitas
halusinasi : pengalaman kejadian sensorik tanpa input dari lingkungan sekitar, misalkan mendengar suara-suara aneh, padahal sebenarnya sedang dalam suasana hening.


aku baru tahu artinya lHo hehheh thkns Info yahc....... rajin2 nulis negh....

lam kenal ea..............

atanotonogoro mengatakan...

simple dan berisi :) salam kenal.

Fais cWaKep mengatakan...

kepduLian itu masih ada daLam diriku kok...
hheheeee...

attayaya mengatakan...

tengkyu mba
link "restry area" dah terpajang juga

Naila mengatakan...

hemm,,,,,,

aku juga baru tahu artinya secara pasti delusi ma halusinasi,

makasih infonya, kasian juga ya mereka..

bluethunderheart mengatakan...

wah blue baru tahu juga nich
salam hangat dari blue

duniaira.blogspot mengatakan...

hhmmmm....nice post!
Kebetulan abis nonton film yang berkaitan

THE HAUNTING IN CONNECTICUT

Saat kita beda membedakan antara khayalan dan kenyataan
Salam kenal!

amiboyz mengatakan...

nice post . jadi nambah ilmu

anonym mengatakan...

kita=saya+kamu

kalau saya peduli, kamu peduli
maka kita semua akan peduli

salam kenal ya..

Dorothy Souhuwat mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
sandra mengatakan...

tulisannya berat ya? tapi banyak ilmu yang saya dapat. salam kenal ya :)

Free books! mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
wibowo mengatakan...

uhh...pertama datang sudah disuguhi tulisan yang musti perlu penerjemahan terlebih dahulu :D
namun secara ga langsung, datang juga dapat ilmu baru tentang apa itu schizopherina dan bagaimana kita menyikapinya. nice posting :) cuma mbok ya jangan terlu berat dong tulisannya. jadi berkerut nih bacanya hohoho.. salam kenal

Bunglon Blog Indonesia mengatakan...

hmm memang terkadang kepedulian itu akan lahir dengan sendirinya ketika kita pernah mengalaminya untuk yg belum pernah mengalami ini memerlukan sebuah proses tersendiri untuk mengajaknya
Sukses Slalu!

Rumah Dijual Yogyakarta mengatakan...

*delusi : sebuah misinterpretasi terhadap realitas

aku sering tuh.. liat di cermin ngerasa ganteng, tapi kata orang biasa aja :D

eh itu sing cuma ke-pede an aja kali ya..hahahah..

anggapan yang merendahkahkan penderita schizophrenia itu karena kurangnya wawasan masyarakat dan terbatasnya resources mengenai hal ini.

TamaGO mengatakan...

karena banyak yg ga tau tentang schizophrenia, apa penyebabnya dan penanganannya jadi langsung dikasih label gila dan ga berani deket2 takut diapa2in kalo gilanya kumat gitu

restry mengatakan...

@ all : terima kasih semua,, maav baru sempat di bales, baru aktif lagi soalnya hehe,, semoga infonya bermanfaat :)

@ wibowo : waduuuhh maaf, keberatan ya bahasanya? lain kali akan kuusahaan agar bahasanya ringan :)

Yohan wibisono mengatakan...

Nice Artikel, inspiring in my angle.
Have a nice day :)

Poskan Komentar