Pernahkan Anda berprasangka? Atau bahkan korban dari prasangka? Berikut ini ada sedikit kisah mengenai prasangka (maaf sedikit menyinggung suku)
A adalah orang Medan, mulai tahun ini ia berkuliah di universitas X di Yogyakarta. Di awal-awal perkuliahannya, A menjalin hubungan pertemanan dengan beberapa orang juga berkuliah di universitas yang sama. Ketika sedang asyik berbincang, logat Medan yang berusaha ia kurangi (dalam rangka penyesuaian) muncul. Seorang temannya berkomentar, “ orang Medan memang kasar-kasar, tidak sopan”. A pun minta maaf kepada temannya. Dalam hati A tersinggung, karena suka-tidak suka memang ia berlogat demikian. Agak sedikit tersinggung memang, namun ia sadar ucapan temannya itu adalah sebuah prasangka yang digeneralisasi kepada semua orang Medan, bukan maksud lain. Di lain hari ia berusaha agar dapat lebih menyesuaikan dengan lingkungan sekitar
Dari cuplikan kisah di atas, teman si A berpikiran negatif tentang A sehingga dapat dikatakan teman si A berprasanka terhadap A, sedangkan A sendiri adalah korban dari prasangka itu sendiri.
Apa itu prasangka? Prasangka adalah suatu sikap negatif terhadap anggota dari kelompok sosial tertentu. Disadari maupun tidak prasangka, kebanyakan dari kita pernah berprasangka. Berdasarkan penelitian , prasangka timbul dari beberapa sumber yang berbeda.
Pertama, Prasangka dapat muncul akibat adanya kompetisi antar kelompok untuk mendapatkan sesuatu hal yang berharga misal pekerjaan, tepri ini disebut juga teori Konflik Realistik.
Sumber lainnya adalah prasangka muncul akibat adanya proses pembelajaran dalam kehidupan sosial (Social Learning View). Munculnya pandangan negatif seseorang terhadap kelompok lain dikarenakan ketika masih anak-anak, ia memperhatikan lingkungannya bersikap yang sama. Anak juga belajar mengenai peraturan sosial yang berlaku di lingkungannya.
Prasangka juga dapat muncul dari kecenderungan untuk membagi dunia menjadi “kita” dan “mereka” dan memandang kelompok kita sendiri sebagai kelompok yang baik daripada kelompok lain.
Akibat adanya prasangka ini, tak jarang akan menimbulkan perselisihan kecil, bahkan tak mengherankan akan muncul sebuah konflik besar, seperti kasus perselisihan di Maluku.


10 komentar:
kunjungan petang.
bukankah sebagian dari prasangka itu dosa, kawan?
yup, prasangka buruk memang dosa kawan :D
smoga kita bisa menghindari prasangka buruk....
berprasangka baik emang susah,,tapi kita harus belajar
marilah kita buang jauh-jauh prasangka negatif/buruk dan budayakanlah prasangka yg positif :D
berprasangka baik atopun buruk yah pernahlah hehehe hanya manusia biasa..
res....kangen aku... kok di blogku restry g terupdate yah..jd ketinggalan bnyak postingan deh :(
setuju banget. Banyak dari prasangka dan streotipe yg men-generalisasi suatu kelompok shg bisa memunculkan sentimen suatu kelompok shg tak ayal terkadang menjadi pemicu konflik, bentrokan dan kerusuhan.
Hai,
Sudah lama aku nggak blogwalking. Karena memang dah lama juga nggak blogging. Hehehehehe.... Datang sekedar menyapa. Semoga dirimu sehat dan selalu bahagia.... dan semoga belum lupa dengan persahabatan kita.
:)
Salam,
Ninneta
Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku :
http://www.yohanwibisono.com, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx
yap berprasangka itu kan manusiawi. Tapi jangan terlalu menyalahkan nanti malah jadi souzon hehe
salam sejahtera....makasih sobat infonya sangat berguna buat saya. saya suka sama artikel yang sobat tulis, sangat menarik. salam kenal yach..semoga blog sobat tambah sukses.goodluck..
Poskan Komentar